ADA APA DENGAN ISLAM ?
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada
orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata:
"Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang MUSLIM (menyerah diri?")
(QS. Fushshilat : 33)
إِنَّ
الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Sesungguhnya
agama yang diterima Allah, hanyalah islam. (QS. Ali Imran: 19)
"Sesungguhnya agama (yang
diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah
diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena
kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya." (QS. Ali
Imran : 19).
"Barangsiapa mencari agama
selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama
itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS.
Ali Imran: 85)
Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin
artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua
seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia.
Sesuai dengan firman Allah dalam Surat al-Anbiya ayat 107 yang artinya :
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan
untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
Indonesia
adalah negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Namun, Dunia Islam
pada masa-masa akhir ini mengalami kemerosotan dan keterbelakangan dalam segala
hal. Hal itu lah yang memicu terjadinya masalah-masalah dimana-mana, yang kerap
kita temui di media massa. Mulai dari anak-anak yang melakukan hal-hal yang
tidak senonoh, berjudi, menghisab sabu. Remaja tawuran antar sekolah, menjadi
pengedar narkoba, minum-minuman keras. Orang tua yang mencabuli anaknya sendiri, membunuh anggota keluarga sendiri, membunuh karena masalah sepele, bunuh diri, mutilasi, dan sebagainya. Sampai kepada pejabat kita yang melakukan tindak asusila, dan korupsi besar-besaran. Hampir setiap hari kejadian semacam ini keluar di pemberitaan. Ditambah lagi dengan jumlah pemeluk agama Islam yang semakin menurun. KETUA
Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2014 Pusat Din Syamsuddin, menunjukkan angka
statistik pertumbuhan umat Islam Indonesia. Pada sensus penduduk 1990 jumlah
umat Islam cuma mencapai 87,6 persen. Angka ini kemudian meningkat menjadi 88,2
persen pada sensus penduduk 2000. Yang memprihatinkan, kata Din, angka
pertumbuhan tahunan umat Islam hanya 1,2 persen. Sementara Kristen dua kali
lipatnya, yakni 2,4 persen per tahun. Bila diturunkan lagi ke tingkat provinsi,
akan lebih memprihatinkan lagi. Din mengutip data seorang penulis Leo
Suryadinata yang menyebutkan angka pertumbuhan Kristen terbesar adalah di
Provinsi Kepulauan Riau yang mencapai delapan persen per tahun.[1]
Kemerosotan ini bukan hanya dalam hal kuantitas, namun juga
kualitas. Kemorosotan dalam hal aqidah, karena mereka mulai menjadikan
Rasulullah bahkan para salaf bukan sebagai teladan dalam berperilaku, namun
mereka beralih dalam tokoh-tokoh dalam cerita barat yang merusak kehidupan ini
dan menghancurkannya. Kaum muslimin mundur dalam segala hal lapangan ilmiah,
mereka melupakan kedudukan mereka sebagai pemimpin dan pelopor dalam segala
hal, dan sekarang mereka menjadi pengekor. Tak ingatkah kita dari beberapa
ilmuwan terdahulu yang mencentuskan beberapa penemuan ilmiah yang akhirnya hal
itu seperti ditutup sejarahnya dan diganti begitu saja dengan sosok-sosok
ilmuwan Barat. Muncul lah generasi modern yang meninggalakan warisan berharga
itu, dan akhirnya diambil oleh musuh-musuh Islam.
Para musuh-musuh Islam ini menyajiakan beberapa gambaran-gambaran
aneh dan lucu tentang Islam. Islam diserbu oleh sekian banyaknya pasukan secara
perlahan dan mereka rakus akan mencamplok Islam dengan ranah pemikiran. Melalui
invasi militer hingga perang pemikiran.
Ambisi pertama yang dilakukan oleh musuh –musuh Islam yaitu dengan
menyajikan keragu-raguan dan memutar balikkan fakta tentang hal yang
berhubungan dengan Islam. Seperti, apakah ajaran Islam itu lahir dari
kebudayaan Arab, atau hal lain semacamnya. Pengetahuan umat Islam akan agamanya
yang kurang, mengakibatkan mereka mudah diarahkan oleh pemikiran musuh-musuh
Islam. Akhirnya pertanyaan semua itu merucut kepada apa hubungan agama dengan
kehidupan.
Semua musuh-musuh Islam mengarahkan semua kemampuannya untuk
menghancurkan umat Islam agar mereka tak lagi berkiblat kepada aturan dan
syariat kepada agama yang telah dibawakan oleh Rasulullah.
Kekuatan umat Islam terletak dalam hal aqidahnya. Para musuh-musuh
Islam telah menyadari hal ini, dan tidak akan bisa dikalahkan dengan serangan
senjata. Maka mereka mengatur beberapa strategis, salah satunya lewat
pendidikan dan pengajaran. Dengan mengubah beberapa kurikulum yang berasal dari
Barat, bahkan dengan adanya pertukaran pelajar ke luar negeri. Mereka
mengelabui lewat pelajaran-pelajaran Agama yang hanya dikutip beberapa potong
saja dan menyebabkan para pelajar
menerima pelajaran yang tidak lengkap. Pertukaran pelajar yang disusupi dengan
beberapa pelajaran ideology, yang secara halus menyebabkan tercampurnya
pemikiran.
Musuh-musuh Islam tak akan pernah lelah menghancurkan Islam. Salah
satunya lewat media massa. Mereka menyadari peranan yang sangat dalam lewat
media massa ini, mereka mencari sumber-sumber salah yang mereka anggap benar
setelahnya disebarkan dan mengelurkan umat Islam dari agamanya. Semua hal ini
dilakukan untuk menghilangkan kecintaan umat Islam terhadap agamanya. Segala
kekuatan mereka luncurkan untuk mencairkan perbedaan antara umat Islam dengan
non muslim. Hal ini juga dimaksudkan agar umat Islam merasa cinta dengan
musuh-musuh Islam. Dukungan materi dari musuh-musuh Allah terhadap
antek-anteknya yang besar membuat mereka semakin gencar menghancurkan Islam.
Hal yang paling menonjol yang sedang meraka kaburkan adalah nilai-nilai juang
dari jihad. Mereka memunculkan bahwa umat Islam suka akan pertumapahan darah,
suka membunuh, berperang dan kekerasan. Akhirnya musuh-musuh Allah memberika
solusi sendiri atas pernyataaan yang mereka keluarkan, yaitu dengan cara Umat
Islam harus bersikap toleransi, mencintai golongan lain, mengubah pandangan tentang
non muslim. Dengan bersebarnya kekejian ini umat Islam semakin lupa akan
batasan-batasan bagaimana berinteraksi dengan non muslim.
Islam masih belum bisa menanam sendiri apa yang menjadi makanan
pokoknya. Juga belum bisa memproduksi senjata yang diperluakn untuk sekedar
membela kehormatannya. Apalagi, memproduksi alat-alat canggih untuk membangun
wibawanya di hadapan ummat lain.[2]
Semua fenomena ini menyebabkan umat Islam malu akan menyatakan
dirinya sebagai orang Muslim. Mereka telah percaya bahwa islam terbentuk dari
kebudayaan Arab. Mulai dari hijabnya, celananya, jenggotnya dan hal serupa yang
lain. Umat Islam dianggap tidak sejalan dengan jaman, umat Islam tidak gaul.
Dan hal ini sangat mencolok dengan adanya para kids jaman now, semua telah berkiblat
pada dunia Barat. Bahkan munculnya sikap toleransi yang berlebihan mereka
menembus batas-batas muamalah dengan non muslim. Padahal Islam mengatur tentang
beberapa interaksi yang dibolehkan dengan non muslim.
Fenomena yang telah terjadi sekarang, apakah lantas membuat kita
hanya berdiam diri sebagi penonton, hanya sekedar menjadi pengekor atau kah
pelopor. Maka, sudah bukan saatnya lagi kita mendebatkan masalah ikhtilaf,
bukan saatnya lagi kita terjebak dalam permasalahan antar umat Islam sendiri, yang
dengan itu musuh-musuh Islam sedang tertawa melihat tingkah kita sendiri. Semua
hal ini jika kembali dalam kalimat tauhid kita, yaitu لا اله الا الله محمد رسول الله.
Sebagaimana
yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim kalimat لا اله الا
الله محمد رسول الله inilah timbangan-timbangan dipancangkan,
pengadilan diadakan dan penggiringan ke surga serta neraka terjadi.[3]
Hakikat kalimat ini terangkum dari pengetahuan terhadap apa yang dibawa
Rasulullah dari segi ilmu, pembenaran dari segi persetujuan, pernyataan dari
segi pengucapan, kepatuhan kepadanya dari segi kecintaan dan ketundukan,
pengalaman secara dzahir dan batin, pelaksanaan dan dakwah kepadanya
berdasarkan kemampuan, penyempurnaannya karena kecintaan dan karena Allah,
membenci karena untuk menghindar, memberi dan menahan karena Allah serta Allah
satu-satunya penyembahan.[4]
Dakwah yang
sedang sama-sama kita lakukan ini, harus perlu penguatan sesama aktivis dakwah
satu sama lain. Selain mengharap kemenangan dari Allah, maka perlahan kita
merangkul orang-orang penting dalam pergerakan Islam sendiri. Hal pertama yang harus dilakukan adalah
memperbaiki pemahaman mereka akan kalimat ,
لا اله
الا الله محمد رسول الله.
Selain itu juga meluruskan pemahaman ibadah dengan pemahaman yang menyeluruh,
untuh dan lengkap. Menjelaskan kepada mereka akan pentingnya agama yang menjadi
landasan untuk hidup dan bukan sekedar menjadi identitas keagamaan. Mendidik
generasi muda berdasar pada Quran dan Sunnah. Tidak memberikan
contoh tauladan selain pada Rasulullah dan para salafussholih. Membuka semua
kedok kejahiliyahan agar mereka paham dengan pasti apa yang dimaksud dengan
jahiliyyah. Hal itu akan membuat mereka paham bagaimana batasan-batasan yang
seharusnya yang dilakukan kepada non muslim dan musuh-musuh Islam. Selalu
membangkitkan optimisme dan penguatan diri bahwa siapa yang bersungguh-sungguh
menolong agama Allah maka Allah akan memudahkan dan menolongnya.
[1]
https://www.islampos.com/jumlah-umat-islam-di-indonesia-menurun-15590/, diakses pada tgl 24 Desember 2017, pukul 09:36
[2] Yusuf Qordhowi,
Gerakan islam (Mesir : robbani press, tahun 1991) hal 134, cet 1
[3] Muhammad bin
Said bin Salim, Loyalitas Muslim Terhadap Islam (Solo : Ramadhani, 1993), hlm. xiii
[4] Ibid, hal. xiv
Tidak ada komentar:
Posting Komentar