Pages

Minggu, 24 Desember 2017



ADA APA DENGAN ISLAM ?
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang MUSLIM (menyerah diri?") (QS. Fushshilat : 33)

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Sesungguhnya agama yang diterima Allah, hanyalah islam. (QS. Ali Imran: 19)
"Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya." (QS. Ali Imran : 19).
"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Ali Imran: 85)
Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat al-Anbiya ayat 107 yang artinya :
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Namun, Dunia Islam pada masa-masa akhir ini mengalami kemerosotan dan keterbelakangan dalam segala hal. Hal itu lah yang memicu terjadinya masalah-masalah dimana-mana, yang kerap kita temui di media massa. Mulai dari anak-anak yang melakukan hal-hal yang tidak senonoh, berjudi, menghisab sabu. Remaja tawuran antar sekolah, menjadi pengedar narkoba, minum-minuman keras. Orang tua yang mencabuli anaknya sendiri, membunuh anggota keluarga sendiri, membunuh karena masalah sepele, bunuh diri, mutilasi, dan sebagainya. Sampai kepada pejabat kita yang melakukan tindak asusila, dan korupsi besar-besaran. Hampir setiap hari kejadian semacam ini keluar di pemberitaan. Ditambah lagi dengan jumlah pemeluk agama Islam yang semakin menurun. KETUA Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2014 Pusat Din Syamsuddin, menunjukkan angka statistik pertumbuhan umat Islam Indonesia. Pada sensus penduduk 1990 jumlah umat Islam cuma mencapai 87,6 persen. Angka ini kemudian meningkat menjadi 88,2 persen pada sensus penduduk 2000. Yang memprihatinkan, kata Din, angka pertumbuhan tahunan umat Islam hanya 1,2 persen. Sementara Kristen dua kali lipatnya, yakni 2,4 persen per tahun. Bila diturunkan lagi ke tingkat provinsi, akan lebih memprihatinkan lagi. Din mengutip data seorang penulis Leo Suryadinata yang menyebutkan angka pertumbuhan Kristen terbesar adalah di Provinsi Kepulauan Riau yang mencapai delapan persen per tahun.[1]
Kemerosotan ini bukan hanya dalam hal kuantitas, namun juga kualitas. Kemorosotan dalam hal aqidah, karena mereka mulai menjadikan Rasulullah bahkan para salaf bukan sebagai teladan dalam berperilaku, namun mereka beralih dalam tokoh-tokoh dalam cerita barat yang merusak kehidupan ini dan menghancurkannya. Kaum muslimin mundur dalam segala hal lapangan ilmiah, mereka melupakan kedudukan mereka sebagai pemimpin dan pelopor dalam segala hal, dan sekarang mereka menjadi pengekor. Tak ingatkah kita dari beberapa ilmuwan terdahulu yang mencentuskan beberapa penemuan ilmiah yang akhirnya hal itu seperti ditutup sejarahnya dan diganti begitu saja dengan sosok-sosok ilmuwan Barat. Muncul lah generasi modern yang meninggalakan warisan berharga itu, dan akhirnya diambil oleh musuh-musuh Islam.
Para musuh-musuh Islam ini menyajiakan beberapa gambaran-gambaran aneh dan lucu tentang Islam. Islam diserbu oleh sekian banyaknya pasukan secara perlahan dan mereka rakus akan mencamplok Islam dengan ranah pemikiran. Melalui invasi militer hingga perang pemikiran.
Ambisi pertama yang dilakukan oleh musuh –musuh Islam yaitu dengan menyajikan keragu-raguan dan memutar balikkan fakta tentang hal yang berhubungan dengan Islam. Seperti, apakah ajaran Islam itu lahir dari kebudayaan Arab, atau hal lain semacamnya. Pengetahuan umat Islam akan agamanya yang kurang, mengakibatkan mereka mudah diarahkan oleh pemikiran musuh-musuh Islam. Akhirnya pertanyaan semua itu merucut kepada apa hubungan agama dengan kehidupan.

Semua musuh-musuh Islam mengarahkan semua kemampuannya untuk menghancurkan umat Islam agar mereka tak lagi berkiblat kepada aturan dan syariat kepada agama yang telah dibawakan oleh Rasulullah.
Kekuatan umat Islam terletak dalam hal aqidahnya. Para musuh-musuh Islam telah menyadari hal ini, dan tidak akan bisa dikalahkan dengan serangan senjata. Maka mereka mengatur beberapa strategis, salah satunya lewat pendidikan dan pengajaran. Dengan mengubah beberapa kurikulum yang berasal dari Barat, bahkan dengan adanya pertukaran pelajar ke luar negeri. Mereka mengelabui lewat pelajaran-pelajaran Agama yang hanya dikutip beberapa potong saja dan menyebabkan  para pelajar menerima pelajaran yang tidak lengkap. Pertukaran pelajar yang disusupi dengan beberapa pelajaran ideology, yang secara halus menyebabkan tercampurnya pemikiran.
Musuh-musuh Islam tak akan pernah lelah menghancurkan Islam. Salah satunya lewat media massa. Mereka menyadari peranan yang sangat dalam lewat media massa ini, mereka mencari sumber-sumber salah yang mereka anggap benar setelahnya disebarkan dan mengelurkan umat Islam dari agamanya. Semua hal ini dilakukan untuk menghilangkan kecintaan umat Islam terhadap agamanya. Segala kekuatan mereka luncurkan untuk mencairkan perbedaan antara umat Islam dengan non muslim. Hal ini juga dimaksudkan agar umat Islam merasa cinta dengan musuh-musuh Islam. Dukungan materi dari musuh-musuh Allah terhadap antek-anteknya yang besar membuat mereka semakin gencar menghancurkan Islam. Hal yang paling menonjol yang sedang meraka kaburkan adalah nilai-nilai juang dari jihad. Mereka memunculkan bahwa umat Islam suka akan pertumapahan darah, suka membunuh, berperang dan kekerasan. Akhirnya musuh-musuh Allah memberika solusi sendiri atas pernyataaan yang mereka keluarkan, yaitu dengan cara Umat Islam harus bersikap toleransi, mencintai golongan lain, mengubah pandangan tentang non muslim. Dengan bersebarnya kekejian ini umat Islam semakin lupa akan batasan-batasan bagaimana berinteraksi dengan non muslim.
Islam masih belum bisa menanam sendiri apa yang menjadi makanan pokoknya. Juga belum bisa memproduksi senjata yang diperluakn untuk sekedar membela kehormatannya. Apalagi, memproduksi alat-alat canggih untuk membangun wibawanya di hadapan ummat lain.[2]

Semua fenomena ini menyebabkan umat Islam malu akan menyatakan dirinya sebagai orang Muslim. Mereka telah percaya bahwa islam terbentuk dari kebudayaan Arab. Mulai dari hijabnya, celananya, jenggotnya dan hal serupa yang lain. Umat Islam dianggap tidak sejalan dengan jaman, umat Islam tidak gaul. Dan hal ini sangat mencolok dengan adanya para kids jaman now, semua telah berkiblat pada dunia Barat. Bahkan munculnya sikap toleransi yang berlebihan mereka menembus batas-batas muamalah dengan non muslim. Padahal Islam mengatur tentang beberapa interaksi yang dibolehkan dengan non muslim.
Fenomena yang telah terjadi sekarang, apakah lantas membuat kita hanya berdiam diri sebagi penonton, hanya sekedar menjadi pengekor atau kah pelopor. Maka, sudah bukan saatnya lagi kita mendebatkan masalah ikhtilaf, bukan saatnya lagi kita terjebak dalam permasalahan antar umat Islam sendiri, yang dengan itu musuh-musuh Islam sedang tertawa melihat tingkah kita sendiri. Semua hal ini jika kembali dalam kalimat tauhid kita, yaitu لا اله الا الله محمد رسول الله.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim kalimat لا اله الا الله محمد رسول الله inilah timbangan-timbangan dipancangkan, pengadilan diadakan dan penggiringan ke surga serta neraka terjadi.[3] Hakikat kalimat ini terangkum dari pengetahuan terhadap apa yang dibawa Rasulullah dari segi ilmu, pembenaran dari segi persetujuan, pernyataan dari segi pengucapan, kepatuhan kepadanya dari segi kecintaan dan ketundukan, pengalaman secara dzahir dan batin, pelaksanaan dan dakwah kepadanya berdasarkan kemampuan, penyempurnaannya karena kecintaan dan karena Allah, membenci karena untuk menghindar, memberi dan menahan karena Allah serta Allah satu-satunya penyembahan.[4]
Dakwah yang sedang sama-sama kita lakukan ini, harus perlu penguatan sesama aktivis dakwah satu sama lain. Selain mengharap kemenangan dari Allah, maka perlahan kita merangkul orang-orang penting dalam pergerakan Islam sendiri. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki pemahaman mereka akan kalimat ,  لا اله الا الله محمد رسول الله. Selain itu juga meluruskan pemahaman ibadah dengan pemahaman yang menyeluruh, untuh dan lengkap. Menjelaskan kepada mereka akan pentingnya agama yang menjadi landasan untuk hidup dan bukan sekedar menjadi identitas keagamaan. Mendidik generasi muda berdasar pada Quran dan Sunnah. Tidak memberikan contoh tauladan selain pada Rasulullah dan para salafussholih. Membuka semua kedok kejahiliyahan agar mereka paham dengan pasti apa yang dimaksud dengan jahiliyyah. Hal itu akan membuat mereka paham bagaimana batasan-batasan yang seharusnya yang dilakukan kepada non muslim dan musuh-musuh Islam. Selalu membangkitkan optimisme dan penguatan diri bahwa siapa yang bersungguh-sungguh menolong agama Allah maka Allah akan memudahkan dan menolongnya.

[1] https://www.islampos.com/jumlah-umat-islam-di-indonesia-menurun-15590/, diakses pada tgl 24 Desember 2017, pukul 09:36
 [2] Yusuf Qordhowi, Gerakan islam (Mesir : robbani press, tahun 1991) hal 134, cet 1

[3] Muhammad bin Said bin Salim, Loyalitas Muslim Terhadap Islam (Solo : Ramadhani, 1993), hlm. xiii
[4] Ibid, hal. xiv


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS